Éducation

L'Université est une chance!

  
 

The first country for my first study abroad

Oleh : Fadhilah Muslim

Alumni Master 2 : Ecole des Ponts, ParisTech (ENPC) – Ecole Polytechnique, France

Specialty: Material Sciences for Suistanable Construction (Master International)

Bagi saya, alasan utama atas pilihan perguruan tinggi dimana saya ingin menuntut ilmu adalah kualitas dari perguruan tinggi tersebut, bukan karakteristik kota yang akan saya tempati. Dan menurut berbagai sumber, maka universitas terbaik untuk engineering di Prancis adalah ecole polytechnique. Sementara untuk jurusan teknik sipil sesuai dengan spesialisasi saya, menurut informasi dari dosen saya dan informasi di internet, sekolah dimana saya telah menyelesaikan studi master saya ini adalah bapaknya teknik sipil di Prancis. Dan akhirnya dengan niat dan keinginan yang kuat, saya pun memutuskan untuk mendaftar di sekolah ini dan hingga akhirnya setelah satu tahun kemudian 2012-2013, saya pun bisa kembali ke Indonesia dengan membawa ijazah lulus dari ecole ini dan mendapatkan gelar Master of Sciences dengan predikat « cumlaude ». Alhamdulillaah.


Di Prancis, memang perguruan tinggi itu terdiri dari beberapa jenis layaknya seperti Indonesia yang juga terdiri dari universitas, politeknik, sekolah tinggi, dsb. Tetapi secara umum, di Negara Prancis ini institusi pendidikan tinggi dibagi menjadi : universitas dan grand ecoles. Universitas seperti di negara lainnya, merupakan perguruan tinggi negeri yang bersifat publik dan terdiri dari beberapa disiplin ilmu, misalnya kelompok ilmu sosial, jurusan kedokteran, dan science pun semua ada di dalam universitas. Biaya tuition fee di universitas sangatlah kecil bahkan bisa dibilang di universitas tidak mengenal adanya tuition fee.
Lain halnya dengan grand ecoles mewajibkan mahasiswanya untuk membayar tuition fee, dan untuk master yang saya telah ikutin ini, saya harus membayar 700 euros untuk 1 tahun. Adapun tingkat persaingan untuk bisa lolos di perguruan tinggi yang termasuk dalam kategori grand ecoleini tidaklah mudah. Dan pun lulusan dari grand ecole ini akan menjadi incaran dari pemerintahan dan industri.

Contohnya saja adalah kampus saya ini yaitu Ecole des Ponts, ParisTech. Sekolah ini termasuk grand ecole di Prancis dan termasuk dalam kelompok ParisTech, bersamaan juga dengan Ecole Polytechnique, sebagai ecole terbaik di Prancis. Sekolah saya ini sebelumnya disebut ENPC (ecole pont et chaussess), yang artinya adalah sekolah jembatan dan jalan. Singkat cerita, kampus saya ini adalah memang kampus terbaiknya untuk jurusan teknik sipil. Beberapa insinyur sipil yang terkenal di dunia adalah lulusan dari kampus yang sudah berdiri sejak tahun 1747.

Teringat cerita ketika saya memutuskan untuk memberanikan diri mendaftar di kampus ini. Terdengar kabar dan cerita dari dosen saya di Indonesia yang kebanyakan adalah lulusan teknik sipil di Prancis juga mengatakan bahwa persaingan untuk masuk di kampus ini sangat susah. Semua mahasiswa yang sudah memutuskan untuk bergerak di bidang teknik sipil berlomba-lomba untuk bisa diterima di kampus ini. Jadi sebagai informasi, bahwa untuk bisa melanjutkan kuliah di grand ecole bagi mahasiswa prancis itu sendiri, sebelumhya  harus sudah menyelesaikan ecole prepatoire (sekolah persiapan) selama dua tahun. Itulah salah satu perbedaan signifikan antara universitas dan ecole, dimana untuk universitas, semua yang lulusan SMA bisa lansung mendaftar di universitas.

Lanjut cerita, mengingat waktu proses pendaftaran master saya ini sudah dibuka, saya pun memberanikan diri mendaftar di sekolah ini, walaupun dibayang-bayangi dengan kegagalan untuk bisa diterima di kampus ini. Bercerita tentang keberanian diri, yap begitulah saya, saya sangat berkeinginan untuk bisa melanjutkan kuliah di luar negeri, tentu dengan prinsip tidak hanya sekedar di terima di perguruan tinggi di luar negeri saja, saya pun menargetkan untuk diterima dan bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi terbaik di Prancis. Karena kesempatan itu tidak akan pernah datang dua kali, jika saya berkesempatan untuk bisa melanjutkan master di luar negeri, maka sekolah terbaik pun akan menjadi target saya. Dan benar adanya, ternyata segala sesuatunya memang harus dicoba dan berusaha. “Lebih baik gagal setelah mencoba daripada mundur sebelum mencoba”, karena dengan mencoba maka masih ada kemungkinan diterima atau tidak, sementara jika memilih untuk mundur, maka jawaban itu pasti hanya ada satu, ‘no’. Sehingga dengan motivation letter yang penuh keyakinan, record nilai yang alhamdulillah memuaskan, menjadikan saya bisa diterima di kampus ini.

Proses pendaftaran hingga akhirnya bisa diterima di kampus teknik sipil terbaik di Prancis ini, sebenarnya dibilang bukanlah prakara yang sulit. Mahasiswa luar negeri hanya diminta untuk mengunduh dan mengisi formulir yang disediakan, kemudian melampirkan semua dokumen yang diminta, seperti ijazah, tranksrip nilai, sertifikat bahasa Prancis maupun bahasa Inggris, serta surat rekomendasi dan letter of motivation. Suatu hal yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa asing yang ingin mendaftarkan diri untuk studi di Prancis, harus sudah mengtranslate semua dokumen yang diperlukan kedalam bahasa Prancis dengan penerjemah tersumpah.  Setelah semua dokumen dipersiapkan, maka juri dan penanggung jawab master yang yang kita tuju akan memeriksa dan menilai semua dokumen kita. Pengalaman saya adalah ketika saya selesai submit untuk pendaftaran, saya pun dihubungi oleh penanggung jawab master saya melalui email dan saya pun diberikan beberapa pertanyaan terkait letter of motivation yang saya kirimkan. Tidak berlansung lama, sekitar kurang dari 2 bulan, saya pun dinyatakan diterima untuk melanjutkan studi master 2 disana dengan dibuktikan LoA yang mereka kirimkan kepada saya.

6 bulan kuliah di kampus ini, membawa saya kepada satu kesimpulan, bahwa untuk mahasiswa asing, tingkat persaingannya tidak seketat mahasiswa prancis sendiri yang harus melewati ujian masuk layaknya SNM-PTN / SPMB di Indonesia.  Ketika seorang kandidat memenuhi semua kriteria dari persyaratan yang ada, maka dimanapun kita mendaftar, apapun jenis yang kita daftar, baik beasiswa, perguruan tinggi, mencari supervisor untuk doktoral, dll, memang kemudahan itu akan menyertai kita. Sementara faktor ‘x’ yang acap kali dijadikan alasan oleh kebanyakan orang untuk tidak diterima, yang sering disebut-sebut sebagai faktor keberuntungan, bagi saya itu hanya mengambil 0.00000001 persen dari faktor lainnya. Yang paling penting ketika persyaratan dipenuhi, usaha dilakukan, dan doa menyertai, tentu kemudahan dan kesuksesan itu akan selalu menyertai kita, hingga tujuan kebahagian dalam hidup di dunia dan di akhirat akan semakin dekat dan menghiasi hari-hari dengan senang.

Lantas, bagaimana kuliah master di grand ecole ini? 

Sistem kurikulum di master saya ini berbeda dengan di Indonesia, akan tetapi mungkin hampir sama dengan kebanyakan program master di universitas atau ecole lainnya di Prancis. Sama halnya dengan di Indonesia, master tahun kedua ini juga terdiri dari 2 semester. Hanya saja perbedaanya adalah bahwa pada semester pertama, saya harus mengikuti perkuliahan selama 6 bulan di dalam kelas. Dikarenakan jurusan master saya ini adalah kolaborasi antara tiga universitas, dimana ecole des ponts sebagai hostnya, dan ecole polytecnique serta universite marnee la vallee menjadi partnernya, menjadikan saya merasakan bagaimana duduk di kelas dan diajarkan oleh dosen-dosen hebat dan terkenal di Prancis ini.Teringat cerita bahwa setiap hari kamis, tiap minggunya, saya harus mengambil rer dari Noisy Champs dimana Ecole des Ponts berada, menuju ecole polytechnique di daerah selatannya kota Paris, selama kurang lebih 1.5 jam perjalanan.

Memang saya akui kuliah di sini tidaklah mudah. Sistem penilaian di jurusan saya ini layaknya ujian nasional dimana hanya ujianlah semata-mata sebagai penentu kelulusan. Hanya saja perbedaannya bahwa disini juga mengenal dengan istilah rattrapage, atau remedial. Remedial ini dianjurkan untuk mahasiswa yang mendapatkan nilai kurang dari batas minimal kelulusan, yaitu 10.00. Akan tetapi perlu diketahui, bagi mahasiswa yang mengikuti remedial ini, maka nilai maksimal yang bisa didapatkan yaitu hanya 10.00/20.00.

Singkat kata, dari hasil pengamatan saya, para mahasiswa teknik di Prancis ini, memiliki basic engineering yang sangat kuat. Wajar saja, karena ternyata di ecole prepatoire lah mereka di push dan belajar sangat keras untuk bisa lulus dari tahap itu. Sehingga ketika mereka melanjutkan perkuliahan di master, semua yang dipelajari akan terlihat mudah. Dan tidak begitu halnya bagi saya. Saya merasakan kuliah disini cukup berat. Ternyata memang sepertinya basic engineering yang saya dapatkan ketika S1 di Indonesia dulu, tidak begitu kuat, sehingga saya pun harus kembali belajar dari nol sendiri untuk mengejar ketinggalan dari teman-teman disini. Terkadang pun sempat saya lontarkan dan saya simpulkan bahwa lulusan mahasiswa Indonesia itu lebih cocok untuk bekerja sebagai profesional dengan basic ilmu yang bersifat aplikatif, sementara untuk mahasiswa Prancis yang berkeinginan melanjutkan kuliah mereka hingga level2 PhD, tentu menjadi peneliti memang sangat cocok untuk mereka, dan itu kenapa peneliti-peniliti sukses adalah lahiran dari negara-negara di Eropa dan Amerika, dan sangat jarang sekali dari Indonesia, kecuali mereka yang memang sudah meniti karir sebagai ilmuwan di luar negeri.

Kemudian periode semester kedua di Prancis sering disebut dengan periode “stage” atau dalam bahasa Indonesia disebut magang. Magang di Prancis pun juga terdiri berbagai macam. Pada umumnya untuk master research seperti master saya ini, maka magang ini sama saja dengan penelitian di laboratorium. Setiap mahasiswa di master saya ini diwajibkan untuk melakukan penelitian selama 4-6 bulan di laboratorium yang disetujui oleh penanggung jawab master. Untuk magang ini, maka biasanya kita sebagai mahasiswa akan mendapatkan gaji yang dibayarkan oleh masing-masing laboratorium. Untuk laboratorium yang terdapat di universitas atau ecole, biasanya gaji yang diberikan adalah sama yaitu 465 euro. Lain halnya dengan magang di laboratorium perusahaan, maka mahasiswa magang seperti saya bisa mendapatkan gaji sebesar upah minimum rata-rata di Prancis, yaitu sekitar 1200 euro.  

Maka kelebihan dari bisa belajar di sekolah terbaik di Prancis adalah kemudahan bagi mahasiswanya untuk bisa mendaftarkan diri melakukan magang di perusahan-perusahan ternama di Prancis dengan mendapatkan gaji cukup besar untuk kalangan mahasiswa master 2. Dan pun bagi saya pribadi. Ketika itu saya pun mendaftarkan diri untuk bisa melakukan magang di laboratorium pada perusahan konstruksi ternama di Prancis, dan Alhamdulillah saya pun bisa akhirnya diterima dengan melalui proses wawancara dengan calon pembimbing, hanya saja tidak beruntungnya waktu itu adalah bahwa saya sudah menyelesaikan proses kontrak untuk magang di laboratorium milik perguruan tinggi yang kala itu saya tidak berani dan merasa tidak sopan jika saya mengundurkan diri. 

12 bulan pun telah berlalu. Semester pertama yang diakhiri dengan ujian akhir semester pun sudah dilakukan. Program magang yang diakhiri dengan presentasi akhir dan menulis laporan akhir pun juga sudah selesai. Untuk program master saya ini, syarat untuk bisa lulus adalah baik untuk semester 1 dan semester 2 harus mendapatkan nilai minimal 10.00/20.00. Alhamdulillah, saya pun bisa lulus dengan keterangan “cumlaude”.

Jakarta, Desember 2013