Éducation

L'Université est une chance!

Goodbye SMA, Hi Prancis

Oleh : Kathina Aninditya

Mahasiswi S1 jurusan Biologi di Université Joseph Fourier

Nama saya Kathina Aninditya (20 tahun), berasal dari Jakarta. Ketika masih di SMA, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah diluar negeri.Prancis merupakan salah satu negara yang saya pertimbangkan.Saya mulai mencari informasi mengenai pendidikan di negara biru-putih-merah tersebut. Proses pendaftaran hingga penerimaan sebagai mahasiswa di perguruan tinggi yang tergolong mudah (tentunya akan lebih mudah jika syarat-syarat yang diperlukan sudah terpenuhi) membuat saya yakin untuk melanjutkan pendidikan di Prancis.

Setelah lulus SMA, saya mulai belajar bahasa Prancis selama kurang lebih 5 bulan.Saya lalumengikuti ujian DELF A1, A2, B1 dan B2.Ujian-ujian ini merupakan ujian untuk mengetahui tingkat bahasa Prancis yang dikuasai.Saat itu, saya berhasil lulus DELF tingkat B1, sedangkan untuk tingkat B2, saying sekali nilai saya tidak mencukupi.Untungnya saya tetap bisa mendapatkan visa pelajar (karena syarat minimum untuk aplikasi visa pelajar adalah lulus DELF A2).

Januari 2012 adalah saat pertama kalinya saya menginjakkan kaki di negara maju ini. Satu semester pertama saya jalani di kota kecil bernama Besançon untuk memperlancar bahasa Prancis. Pendaftaran universitas dimulai sejak Januari. Pelajar asing yang tidak memiliki sertifikat DELF B2 diwajibkan untuk mengikuti ujian tingkat bahasa lain yaitu TCF-DAP. Ujian ini diadakan di akhir bulan Januari. Sayangnya, saya tidak berhasil memanfaatkan kesempatan untuk lulus tingkat B2 dengan nilai yang tidak jauh dari nilai kelulusan. Setelah itu saya bertekad untuk belajar lebih giat dari sebelumnya. Di sekolah bahasa, CLA Besançon, saya dimasukkan ke kelas level B1. Di kelas ini saya beserta pelajar asing lainnya mencoba berinteraksi satu sama lain dengan menggunakan bahasa Prancis.

Awalnya sulit sekali untuk memahami apa yang mereka katakan karena masing-masing berbicara bahasa Prancis dengan aksen negara masing-masing. Selain itu, saya juga mengalami sedikit kesulitan untuk menangkap apa yang diajarkan oleh para pengajar. Akan tetapi, jika saya bandingkan cara bicara pengajar saya dengan orang Prancis lainnya, mereka sudah berbicara sepelan mungkin agar kami, para mahasiswa asing, dapat mengerti apa yang mereka katakan. Seiring bejalannya waktu, saya terbiasa dengan ritme bicara guru dan teman-teman sekelas saya sehingga interaksi dengan mereka terasa lebih mudah.Untuk berlatih pengucapan bahasa Prancis yang baik dan benar, saya mengikuti kelas phonetique (fonetik).Kelas tersebut sangat berguna bagi saya.Hasilnya adalah orang Prancis lebih mudah untuk mengerti apa yang saya katakan, sehingga berinteraksi langsung dengan orang Prancis dalam kegiatan sehari-hari pun menjadi lebih mudah.

Mei 2012, saya memberanikan diri mengikuti DELF B2, walaupun saya murid kelas tingkat B1.Kabar menyedihkan pun tiba, pendaftaran pertama saya sebagai mahasiswa biologi dalam tiga universitas yang saya pilih ditolak dengan alasan tingkat bahasa saya tidak mencukupi tingkat yang diminta (umumnya, universitas meminta kemampuan bahasa tingkat B2 untuk pelajar asing).Beberapa minggu setelah kabar penolakan ini, saya mendapat berita baik; saya lulus DELF B2 dengan nilai yang cukup memuaskan.Saya merasa ini adalah petunjuk dari Tuhan bahwa saya belum siap menempuh pendidikan lanjut di tahun 2012.Saya pun mencari referensi universitas lain yang mungkin lebih berkualitas.

Suatu ketika, saya menemani teman saya berkunjung ke sebuah kota bernama Grenoble. Kota ini dikelilingi pegunungan Alpen, hal yang membuat saya jatuh cinta terhadap kota ini. Saya pun memutuskan untuk pindah ke kota ini dan mengambil kelas bahasa di CUEF Grenoble. Keputusan ini tentunya tidak hanya berdasarkan kecintaan saya terhadap kota ini, melainkan juga berdasarkan informasi yang saya peroleh.CUEF Grenoble juga merupakan sebuah institusi ternama untuk memperdalam bahasa Prancis.Selain itu, Université Joseph Fourier, universitas dengan jurusan ilmu alam di Grenoble, juga termasuk salah satu universitas ternama di Prancis.

Seminggu pertama saya masuk ke kelas bahasa di CUEF Grenoble, saya merasakan perbedaan yang besar sekali dibandingkan dengan kelas di CLA Besançon. Jika saya ibaratkan, pembelajaran di CLA Besançon seperti pembelajaran di SMP/SMAs, edangkan pembelajaran di CUEF Grenoble lebih seperti perkuliahan. Mungkin juga perbedaan ini diakibatkan oleh perbedaan tingkat bahasa ketika saya di CLA Besançon (B1) dan di CUEF Grenoble (B2).Di lingkungan baru ini, saya merasa seperti orang yang tidak memiliki cukup pengetahuan.Tiap pertemuan, guru saya memberikan satu subjek mengenai Prancis ataupun mengenai permasalahan dunia dan meminta murid-muridnya untuk memberikan pendapat. Di pertemuan awal, saya selalu tidak memberikan pendapat yang jelas berhubung saya tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka bicarakan atau pun saya tidak pernah berpikir sejauh itu mengenai suatu masalah. Semenjak itu, saya merasa guru saya berbaik hati menunjuk saya terakhir untuk memberikan pendapat agar saya dapat mendengar pendapat orang lain dan berpikir lebih dalam mengenai subjek yang sedang dibahas. Tiap dua minggu sekali kami diberikan sebuah subjek sebagai bahan menulis essai atau essai argumentatif.Dengan niat menulis argumen yang memiliki dasar kuat, saya mulai mencari tahu tentang berita-berita dunia dan sejarah dunia. Selain itu, saya juga banyak berdiskusi dengan keluarga dan teman-teman saya di Indonesia tentang pendapat mereka mengenai subyek yang akan saya tulis. Saya merasakan sekali manfaatnya, karena hasil dari diskusi yang saya lakukan dengan orang-orang baik di sini maupun di Indonesia membuka wawasan saya dan juga terkadang mengubah cara berpikir saya.

Selain itu, saya juga mengikuti tiga kelas pilihan, yaitu kelas Literatur Prancis Kontemporer, Sejarah Seni, dan Sejarah Prancis Kontemporer. Saya suka sekali ketiga kelas ini. Untuk kelas Literatur, saya diwajibkan membaca minimal dua novel dalam bahasa Prancis. Novel pertama yang saya baca, adalahL’Etranger. Awalnya saya membaca novel ini seperti novel-novel di Indonesia pada umumnya, tetapi saya tidak mengerti makna dari novel ini. Ceritanya begitu aneh bagi saya. Berkat pembahasan yang dilakukan di kelas Literatur, saya belajar, bahwa aliran kontemporer tidak hanya terdapat di seni lukis tapi juga di seni tulisan dan semua jenis seni lainnya. Oleh karena itu, ketika kita membaca novel ini, kita juga diajak berpikir lebih imajinatif dan lebih dalam mengenai cerita novel ini. Ketika saya memahami novel ini, saya begitu takjub karena makna dari cerita « aneh » ini begitu dalam dan berhubungan dengan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sosial. Tidak hanya novel ini, tapi saya juga kagum dengan novel-novel kontemporer lainnya.

Di kelas Sejarah Seni pun saya diajak untuk membuat analisis dari sebuah karya. Awalnya saya mengalami kesulitan karena di Indonesia saya tidak terbiasa menganalisis segala sesuatunya. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai bisa menganalisis sebuah lukisan. Untuk kelas Sejarah Prancis Kontemporer, saya suka sekali dengan cara mengajar dosennya. Ia seperti bercerita kepada anak-anak kecil tentang sejarah Prancis akan tetapi ia menceritakannya secara detail dan mudah dimengerti oleh siswa-siswinya.

Selain tiga kelas pilihan, saya mengikuti satu kelas wajib yaitu kelas Vocabulaire atau Kosa Kata. Di kelas ini, murid-murid diajak untuk menganalisis arti dan makna dari sebuah kata berdasarkan komposisi kata tersebut dan imbuhan. Kelas ini sangat membantu saya dalam memahami artikel-artikel yang saya baca. Berkat pembelajaran di CUEF, saya merasa menjadi lebih kritis dan kemampuan analisis saya meningkat.

Di semester pertama saya di CUEF Grenoble, saya mencoba mengikuti ujian DALF C1. Dengan bantuan guru kelas saya, saya mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian ini walaupun saya masih di tingkat B2. Ketika pengumuman, malu sekali rasanya saat melihat nama saya di eliminasi. Karena satu-satunya peserta yang dieliminasi adalah saya, sayapun menanyakan nilai yang saya peroleh. Saya mendapat nilai 50, yaitu nilai batas kelulusan, akan tetapi saya mendapat 3.5 untuk ujian berbicara. Saya tahu bahwa saya akan gagal di ujian berbicara karena metode yang saya gunakan tidak sesuai dengan apa yang diminta dan juga keluar dari subjek yang diberikan.

Saya pun melanjutkan semester dua saya di CUEF, kali ini tanpa ujian penempatan kelas.Hal yang mengagetkan saya adalah saya masuk ke kelas untuk tingkat C1.Saya senang sekali bisa masuk ke kelas ini, akan tetapi setelah masuk pertama kali dan berkenalan dengan murid-murid yang lain saya merasa saya yang paling bodoh di kelas. Mengandalkan rasa gengsi saya, saya bertekad melatih lebih giat bahasa Prancis saya.Seperti aktivitas saya di semester lalu, mengerjakan tugas, berdiskusi dan lain-lain, saya juga membeli buku latihan DALF C1.Tiap malam, saya memutar CD dari buku latihan ini dan mendengarkannya sampai saya tertidur.Tujuannya adalah untuk melatih kompetensi mendengar saya.Namun, saya suka merasa bosan dan saya mencari metode baru,yaitumendengarkan lagu-lagu Prancis. Saya menemukan satu video pertunjukkan teater musikal Prancis mengenai Raja Louis XIV.Berkat kelas Sejarah Prancis yang saya ikuti, saya dapat mengerti alur cerita pertunjukan ini.Tiap malam pun saya memutar video ini.Alhasil, ketika ujian mendengarkan di kelas, nilai saya yang tadinya 5/20 menjadi 11/20. Tentunya faktor yang membantu saya bukan hanya video ini tetapi juga interaksi yang saya lakukan dengan mahasiswa lain. Akhir semester, saya memutuskan mengikuti DALF C1 dan DUEF C1.DUEF C1 adalah ujian untuk mendapatkan sertifikat universitas dalam pembelajaran bahasa Prancis.Untuk DUEF C1, saya harus menulis sebuah makalah mengenai kehidupan sosial di Prancis.Saya memutuskan menulis mengenai permasalahan yang dialami oleh para imigranyang tinggal di Prancis. Untuk DALF C1, saya merasa yakin pada kemampuan saya. Hasil akhirpun menunjukkan bahwa saya lulus DALF C1 sedangkan untuk DUEF C1, nilai saya hanya mendekati batas kelulusan tetapi saya tidak berhasil mendapatkan DUEF C1.Saya sudah merasa cukup puas dengan hasil yang saya peroleh.Saya merasa berkembang lebih pesat dalam kemampuan berbahasa Prancis saya disini ketimbang ketika saya belajar bahasa di Indonesia.Selain kemampuan berbahasa yang berkembang, saya juga merasa bahwa saya menajdi semakin dewasa dari perjalanan saya di negara asing ini. Saya juga menjadi lebih menghormati kebudayaan Indonesia, lebih cinta tanah air ketika saya berada disini, dan rasa bangga saya terhadap Indonesia lebih besar daripada saat saya tinggal di Indonesia.Saat ini, saya sudah menjadi seorang mahasiswi jurusan Biologi di Université Joseph Fourier.Pengalaman saya selama belajar bahasa di CLA Besançon dan di CUEF Grenoble membantu saya dalam beradaptasi terhadap lingkungan universitas.