Éducation

L'Université est une chance!

  
 

pengalamanbekerja

Getting through new experiences

Oleh : Ing. Muchammad Zulkifli

VIVERIS Technologies

Diplôme d'Ingénieur d'Electronique

en Spécialité de Système Embarqué et Circuit Intégré

ENSEEIHT Toulouse

The Journey begins

We should choose our own adventure, Begitulah kiranya kata kata yang terbesit dalam pikiran saya ketika akan lulus program master di Toulouse tahun 2012 yang lalu. Apa yang akan saya lakukan setelah lulus? apakah akan pulang ke Indonesia? melanjutkan s3? atau mencoba mencari pengalaman dengan bekerja di eropa?.

Dengan melihat fakta pada tahun 2012, Eropa yang sedang dilanda krisis, sehingga banyak negara di Eropa yang mengutamakan warga lokal untuk bekerja di negara tersebut. Lulusan universitas di Eropa bukan jaminan utama untuk mendapatkan pekerjaan. Ditambah lagi bahwa pada tahun 2011 ada circuilaire Guéant du 31 mai, peraturan tersebut melarang para lulusan mahasiswa asing untuk melanjutkan kerja di Perancis. Hal ini tentunya membuat seluruh mahasiswa asing di Perancis menjadi khawatir karena tidak dapat melanjutkan bekerja, keputusan ini mendapat protes keras dari berbagai institusi. Pergantian presiden Perancis pada tahun 2012 dan pencabutan aturan circulaire 31 Mai 2011 diganti dengan peraturan 31 Mai 2012 yang memperbolehkan kembali lulusan asing untuk dapat bekerja di Perancis.

Pencabutan peraturan inilah yang membuat saya kembali memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di Perancis ketika akan lulus kuliah akhir tahun 2012 lalu. Dengan bermodalkan gelar diplôme Perancis, Student Visa, bahasa Perancis yang masih kurang lancar, serta modal yang paling besar adalah Nekat dan Doa, akhirnya saya mulai melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan di Perancis.

Discover the opportunities

Membuat CV dan motivation letter merupakan langkah awal dan terpenting untuk mencari pekerjaan. Syarat CV untuk negara Eropa dapat berbeda-beda tergantung pada ketentuan masing masing dari setiap negara. Ada beberapa negara yang tidak boleh mencantumkan foto dan tanggal lahir dalam CV. Untuk di Perancis, foto dapat dicantumkan dalam CV, akan tetapi harus dibuat seefisien mungkin, jika memungkinkan hanya 1 lembar atau maksimum 2 lembar dengan mencantumkan berbagai pengalaman dan pendidikan yang mendukung untuk mendapatkan pekerjaan yang dituju, jangan malu2 menjual kemampuan yang anda bisa di CV tersebut. Dari kemampuan akademik hingga pengalaman kerja.

Adanya kuliah mengenai pembuatan CV dan motivation letter di tempat saya kuliah di Toulouse sangat membantu dalam penyusunan CV, selain itu pada kuliah ini juga dilakukan simulasi interview dengan berbagai kondisi yang mungkin terjadi pada saat interview.

Banyak cara yang saya lakukan untuk mencari berbagai peluang yang ada,  dari menghubungi alumni dari universitas saya, menghubungi kenalan di tempat magang, menaruh CV di situs pekerjaan, maupun mengontak perusahaan secara langsung.

Di Perancis terdapat situs Monster.fr, Apec.fr, dan juga pole-emploi.fr dari situs pencari kerja ini saya mendapat pekerjaan saat ini. Cara melamarnya mirip dengan situs jobstreet di Indonesia, memasukkan CV dan motivation letter di situs tersebut dan nantinya perusahaan yang tertarik dengan CV kita akan menghubungi dan dilanjutkan dengan proses interview.

A little Joy

Kesulitan pertama dalam proses interview bagi saya adalah masalah bahasa, terkadang kita tidak dapat menyampaikan secara lugas dan pemilihan kata kata yang tepat. Ditambah lagi pertanyaan pertanyaan yang sering menjebak dalam proses wawancara, pernah suatu saat, interviewer bertanya : "Jika anda dapat memilih, malam ini anda ingin dinner bersama siapa?", mimik wajah saya yang tadinya agak tegang saat interview berubah jadi bingung dan sedikit tersenyum. Dan Pertanyaan pertanyaan lainnya yang terkadang membuat bingung harus menjawab apa.

Setelah menjalani puluhan interview, baik interview by phone atau face by face, dan tentu saja puluhan jugapenolakan yang saya terima. Akhirnya datang juga kabar baik yang ditunggu tunggu dari perusahaan saya sekarang yang memberikan respon positif, dan kembali memanggil saya untuk tanda tangan kontrak kerja.

A Nightmare

Masalah utama di Perancis adalah administrasi yang sangat lama, dari mengurus credit card, asuransi, sampai masalah imigrasi, hal ini sudah menghantui saya dari mulai awal kuliah di Perancis hingga saat ini. Masalah imigrasi inilah yang terkadang sering "menggantung" nasib anak rantau disini.

Setelah mendapat kontrak kerja disini, ternyata banyak urusan administrasi yang masih harus diurus terutama pergantian status dari mahasiswa menjadi pekerja. Hal ini seperti mimpi buruk yang membuat  terbangun dari tidur nyenyak. Circulaire 31 Mai memang telah dihapus, tetapi proses perekrutan orang asing tetap saja "agak" dipersulit oleh prefecture disini. Banyak syarat-syarat yang harus dilakukan oleh perusahaan itu sendiri untuk merekrut orang asing. Perusahaan harus menunjukkan bukti kalau mereka telah mencari dan interview orang Prancis dan memberikan bukti kenapa lebih memilih orang asing dibanding lokal.

Dalam proses pergantian status dari mahasiswa ke pegawai ini, cukup panjang proses yang saya lalui, dari bolak balik Toulouse - Paris untuk ganti prefecture, ganti kota tempat tinggal untuk mencari prefecture yang lebih mudah mengeluarkan titre de sejour di Paris, menjadi nomaden dengan berpindah tempat menginap dari satu tempat ke tempat yang lain, menjadi orang "illegal" selama 3 bulan karena hanya bermodal surat keterangan OFII tanpa bukti kuat titre atau récipissé.

Akan tetapi, perusahaan tempat saya bekerja sekarang sangat membantu dalam pengurusan titre ini, mereka memberikan semua surat - surat yang dibutuhkan dengan cepat, memberikan saran, serta menghubungi prefecture secara langsung sehingga proses pergantian status berjalan lebih cepat.

Setelah lebih dari 6 bulan nasib saya luntang lantung sebagai seorang "illegal", akhirnya pada bulan April 2013 datang juga surat yang menyatakan kalau titre saya sudah siap dan dapat diambil di prefecture. Pengalaman ini merupakan salah satu yang berharga bagi diri saya, banyak juga cerita dari teman teman lainnya yang mungkin lebih lama dan lebih sulit untuk mendapatkan titre ini di Prancis.

One step ahead

Bekerja diluar negeri  merupakan suatu pengalaman tersendiri, bahasa yang berbeda, harus dapat beradaptasi dengan budaya setempat agar nantinya tidak jadi "beda sendiri" di kantor. Penyesuaian diri di kantor, adalah hal yang penting, mengikuti rutinitas di kantor, bercengkrama dengan kolega, mengikuti jam kerja dan memberikan hasil yang baik selama bekerja disana.

Di Perancis, budaya minum kopi merupakan saat dimana dapat berbincang dengan orang lain, begitu pula dengan di kantor, saat minum kopi bersama inilah saat melepas penat sesaat di kantor dan bercengkrama dengan kolega. Budaya soirée dan juga olahraga merupakan salah satu cara juga agar dapat berdiskusi dengan kolega diluar jam kantor. Pengalaman lain yang menarik dengan bekerja di Eropa adalah jam kerja yang sudah jelas, tidak seperti di negara Asia yang terkadang harus bekerja hingga larut malam dan membawa kerjaan ke rumah.

Pengalaman ini merupakan hal yang sangat berharga, disamping itu sebagai seorang rantau yang jauh dari keluarga, bahasa yang bukan bahasa ibu, rindu nikmatnya masakan Indonesia.

Rasa cinta dan rindu kepada Indonesia memang selalu lebih besar ketika kita berada jauh di luar negri. :)

Ya, satu langkah terlewati, masih banyak halangan yang tentunya akan dihadapi...

---Everybody has their own path, keep smile and do your best---