Welcome to the Frontpage
Salut Edisi Mei 2013
- administrator
CALL FOR PAPERS OKTI 2013
- administrator

Soirée Culturelle Indonésienne PPI Lyon
- administrator
Soirée Culturelle Indonésienne de l’Association des étudiants indonésiens de Lyon
Tanggal 13 April 2013, Persatuan Pelajar Indonesia Wilayah Lyon, kembali mengadakan Soiree Indonesienne bertajuk Teatrikal Warisan Imaterial « Legenda Sangkuriang » Jawa Barat.
Acara soiree Indonesienne wilayah PPI Lyon terselenggara atas kerjasama denga berbagai sponsor : Ambasade Indonesie (Atase Pendidikan), ITPC Lyon, KJRI Marseille, ENTPE, AEITPE, AnimEntrac dan bantuan seluruh pihak lainnya.
Naskah cerita Sangkuriang yang diambil dari berbagai referensi tersebut dikemas dalam nuansa kotemporer dengan menampilkan berbagai tarian tradisional. Ide awal konsep acara didalangi Citra Amalia Hadiputri selaku « Big boss » dan Dennisa Dwijayanti serta Jeremia Yonathan selaku penanggung jawab rangakain acara.
Sejak awal direncakan, pagelaran teatrikal tersebut mengusung konsep « teater bisu » dengan melibatkan dua orang narator sebagai penyampai cerita (Awatrawika dan Camille). Sebelumnya, keseluruhan naskah cerita Sangkuriang telah diterjemahkan dalam bahasa Perancis.
Pagelaran budaya yang bertempat di Gedung Puni Ampitheatre ENTPE (Eole national de travaux Publique de l’Etat) dan dihadiri oleh sekitar 300 penonton, termasuk diantaranya tamu undangan dan perwakilan sponsor acara.

-Registrasi Peserta-
Secara keseluruhan pentas teatrikal terbagi atas tiga sceance dengan latar cerita berbeda. Pelaksanaan soirée tersebut diawali dengan tari Melinting (Lampung) yang dibawakan oleh Arie Fitria kemudian dilanjutkan oleh “parole” ketua PPI Lyon Sdr. Yasser Wahyuddin serta Penanggung Jawab acara Sdri. Citra Amalia Hadiputri berikut Dubes Indonesia untuk UNESCO di Paris Bpk. Carmadi Machbub.

-tari melinting-
Sceance pertama menceritakan tentang pertemuan antara Dayang Sumbi (Dennisa Dwijayanti) dan Tumang (Adrian Katili) yang dihiasi oleh tarian tradisional Sunda (Dennisa dan Citra Amalia). Hingga akhirnya Dayang Sumbi dan Tumang menikah dan memiliki seorang anak bernama Sangkuriang (Yasser Wahyuddin). Sceance tersebut ditutup oleh “diusirnya Dayang Sumbi dan Tumang” oleh Raja yang diperankan oleh HBH Sitorus dengan pakaian adat jawa yang memukau penonton.
Jeda scance pertama dan kedua diisi oleh vokal grup PPI Lyon. Hbh Sitorus dan Aly Abdurrahman (gitar), Awatrawika (biola), Karina (gendang) beserta Nurul Avinaty, Blesta Harsanto, Sinta Ayu, Tiara KD, Reyner (vokal). Vokal grup PPI Lyon membawakan 3 lagu daerah sekaligus, "Sik Sik Sibatumanikam", "Kabanglah Bungo Parawitan", "Cublak-Cublak Suweng" serta lagu "Ramko Rambe Yamko". Jeda acara tersebut terasa sangat bersemangat oleh riuh rendah suara penonton yang menirukan lagu terakhir.

-Vokal Group PPI Lyon-
Lanjutan sceance kedua menceritakan kematian si tumang oleh busur panah Sangkuriang hingga Sangkuriang harus meninggalkan ibunya Dayang Sumbi. Dalam adegan ini diisi oleh tarian Cenderawasih (Citra Amalia) untuk menghibur Sangkuriang. Pada akhir sceance kedua, dicertakan Sangkuriang bertemu kembali dengan Dayang Sumbi yang telah memiliki kecantikan abadi dalam “balutan” tari Yapong yang dibawakan sendiri oleh Dennisa Dwijayanti, sampai akhirnya Sangkuriang melamar Dayang Sumbi dan diminta untuk membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya dengan meminta bantuan makhluk halus dan diperankan oleh tari Saman yang terdiri dari tujuh orang anggota PPI Lyon dengan mengenakan pakaian hitam dan merah. Kesan “sangar” penari saman sangat terasa hasil dari kreasi make up Ligya.

-Tari Saman PPI Lyon-
Acara tersebut juga diisi game “tómbola” secara interaktif yang dipandu oleh Nurul Avianty selaku pembawa acara. Penonton yang beruntun mendapatkan souvenir cantik yang disponsori oleh ITPC Lyon.
Akhir cerita sangkuriang ditutup oleh tarian selendang merah yang melambangkan upaya dayang Sumbi untuk mengagalkan Sangkuriang dan Makhluk halus yang membantunya. Tari selendang merah yang dibawakan oleh delapan talent cantik tersebut sekaligus menjadi penutup soirée Indonesienne PPI Lyon yang disambut oleh tepuk tangan riuh penonton berikut penghargaan bunga mwara yang diberikan oleh penonton kepada para pemeran dan panitia acara.
Acara acara soirée idonesienne PPI Lyon belum berakir hingga disini, selain banyak penonton yang ingin berfoto bersama dengan para pemain (karena baju adat yang keren), tapi sepertinya penonton sudah tidak sabar menikmati hidangan makan malam yang telah disediakn oleh Andreas Martinus dan Gindo Sibaran, kedua etudiant Paul Bocus, para chef kebanggaan PPI Lyon.













